TEMPAT MELETAKKAN TANGAN DALAM SHOLAT

1-104

Adapun tempat meletakkan kedua tangan, maka diriwayatkan tentang hal itu dari Nabi Muhammad saw dlm beberapa tempat:

Ada sebuah hadits yang menjelaskan tentang meletakkan kedua tangan di bawah pusar, namun hadits ini tidak shahih bahkan mungkar.

Datang dari Nabi Muhammad saw, sesungguhnya beliau meletakkan tangannya di atas dadanya, sebagaimana diterangkan dalam hadits Wail bin Hujr, dan juga ada riwayat mursal dari Thawwus bin Kaisan dalam sunan Abi Dawud.

Hadits meletakkan tangan di atas dada itu Muammal bin Ismail meriwayatkan secara menyendiri dari Sufyan dari Ashim bin Kulaib dari Bapaknya dari Wail bin Hujr semoga Allah ridho kepadanya, sesungguhnya Nabi Muhammad saw meletakkan tangan kanan nya diatas tangan kiri, diatas dadanya. Lafadz (diatas dadanya) ini diriwayatkan oleh Muammal bin Ismail secara menyendiri dari Sufyan Atsauriy. Sebagian ulama berkata, dia adalah Sufyan ibnu Uyainah dari Ashim bin Kulaib dari Bapaknya dari Wail bin Hujr dan telah menyelisihinya dalam perkara ini sekelompok ulama tsiqqoh yang meriwayatkan dari Sufyan. Dan mereka tidak menyebut lafadz Ala shodrih.

Telah meriwayatkan hadits itu (tanpa menyebutkan lafadz “ala shodrih”) Muhammad bin Idris Asy Syafii, Qutaibah bin Said, Yahya bin Adam, Abu Nuaim Al Fadhol bin Dukain, Waqi’ bin Jaroh, Muhammad bin Yusuf Al Faryabiy, Abdur Razaq bin Hamaam, Al Humaidi, Said bin Abdurrahman Al Mahzuumiy dan para Imam yang tsiqqoh yang jumlahnya mendekati 15 orang.

Al Qomah bin Wail telah meriwayatkan hadits ini dan mengambil darinya sekelompok ulama dari ayahnya tanpa menyebutkan tambahan alash shodrih, ini adalah sebagian yang menunjukkan syadznya tambahan itu.

Ada juga riwayat mursal Thowwus bin Kaisan dalam Sunan Abi Dawud, Sulaiman Bongkar Rahasia Menang Banyak Bandarq bin Musa meriwayatkan darinya dari Thowwus secara mursal dari Nabi, beliau meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya, Kemudian beliau mengumpulkan nya di atas dada sementara beliau dalam keadaan sholat. Ini adalah hadits mursal dan tidak boleh berhujjah dengan hadits mursal, sementara mursal Thawus itu seperti angin (tidak bernilai)

Hadits ini juga datang dalam musnad Ahmad dari Hadits Simaak dari Qabiishoh bin Halb dari Bapaknya, dia berkata, aku melihat Nabi SAW meletakkan tangan di atas dadanya.

Akan tetapi Qabiishoh ini majhuul, tidak ada yang meriwayatkan darinya selain Simaak bin Harb serta ia menyendiri dengan hadits ini, dan tidak ada ihtimal darinya akan hal itu.

Pendapat yang dipegang oleh Jumhur ulama atas disyariatkan menggenggam tangan tanpa ada batasan tentang tempat meletakkannya. Bahkan, Imam Ahmad memilih, (dalam ungkapan yang dinukil oleh Abu Dawid dalam kitab Masailnya, ) makruhnya meletakkan tangan diatas dada. Abi Dawud berkata, Aku bertanya kepada Imam Ahmad tentang meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri, mana yang engkau pilih?. Beliau menjawab, betul diatas pusar sedikit, namun jika diletakkan di bawah pusar maka itu boleh, lalu beliau berkata, dan makruh hukumnya meletakkan kedua tangan di atas dada.Berita Terkece dan Terupdate

Maksud dari Imam Ahmad adalah bolehnya beribadah dengan perbuatan itu sebab tidak adanya dalil shahih tentang nya

Pendapat yang dipilih semua ulama salaf dari Sahabat, tabiin sesungguhnya orang orang disuruh memilih, apabila ia meletakkan tangannya diatas dada atau dipusar atau diperut atau di bawah itu maka hal itu tidak dosa.

Adapun meletakkan tangan di bawah pusar itu merupakan pendapat dari Abi Hanifah.Sementara Malik berpendapat melepaskan tangan ke bawah tanpa bersedekap, Syafi’i dan Ahmad berpendapat meletakkan tangan di atas pusar di bawah dada.

Wa Allahu A’lam

Ahmad Ar Rifa;i

 

 

MEMANJANGKAN PUNGGUNG SAAT SUJUD, SUNNAH?

Sunnahnya di dalam sujud itu sedang sedang saja, sebagaimana hadits yang datang dari Annas bin Maalik dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda, sedang sedang lah kalian dalam bersujud, dan janganlah salah satu dari kalian memanjangkan kedua lengannya seperti mendekamnya anjing.(hadits riwayat bukhari 788) & (muslim 493).

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: artinya jadikanlah sujud kalian itu sedang sedang saja, jangan lah kalian mendekam dengan menurunkan perut diatas paha dan meletakkan paha diatas betis, dan janganlah kalian memanjangkan nya seperti yang dilakukan oleh sebagian orang ketika sujud, dia memanjangkan bahkan hampir berbaring,maka ini tiada keraguan lagi,sesungguhnya hal itu termasuk bid’ah dan bukan sunnah. Tidak ada tuntunan dari Nabi juga bukan dari Sahabat sepanjang yang aku tau sesungguhnya orang orang suka memanjangkan punggungnya ketika sujud. Sesungguhnya memanjangkan punggung itu ketika ruku’ saja, adapun saat sujud maka ia cukup merenggangkan perutnya bukan memanjangkannya.

Wa Allahu A’lam

Ust. Ahmad Rifa’i, M.Pd.I

BERSUJUD SAAT SHOLAT, TANGAN DAHULU ATAU LUTUT DAHULU?

Makin tahqiqnya ilmu membuat para tholibul ilmi menemukan hal-hal baru yang mungkin berbeda dengan apa yang diamalkan oleh para pendahulunya, termasuk di dalamnya adalah bab sujud. Di Indonesia khususnya sebagai pengikut fanantik madzhab Syafi’I telah berabad-abad mempraktekkan bahwa ketika seorang musholli hendak sujud, maka ia akan mendahulukan lututnya baru kemudian tangannya, seakan-akan hal ini merupakan sebuah kebenaran mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar. Akan tetapi seiring dengan diterimanya kajian-kajina kitab lintas madzhab, maka saat ini banyak dijumpai orang yang mendahulukan tangan daripada lututnya saat bersujud. Dan tidak jarang masing-masing mengklaim bahwa apa yang dipraktekkannya tersebut adalah yang paling benar dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW sembari bersifat sinis terhadap orang yang berbeda dengannya. Untuk mengetahui lebih jauh tentang hal tersebut, penulis menyempatkan waktu untuk sedikit membuka-buka kitab koleksi penulis yang jauh dari kata memadai. Dan, hasilnya adalah sebagai berikut:

Imam Nafi’ berkata bahwasannya Ibnu Umar meletakkan kedua tangannya sebelum lututnya (ketika bersujud). Hadist ini diriwayatkan secara muallaq dan mauquf oleh Imam Bukhori dalam shahihnya. Berdasarkan hadits inilah Imam malik berpendapat bahwa disunnahkan mendahulukan kedua tangan sebelum lutut saat bersujud. Lebih lanjut beliau berkata bahwa cara itulah yang terbaik dalam menghadirkan kekhusus’an dan ketenangan dalam sholat. ( Irsyadussari Syarah Shahih Bukhori ,al hafidz Al Qasthalaniy, Juz 2 halaman 515 ). Akan tetapi sekali lagi hadist diatas adalah muallaq yang dalam disiplin ilmu hadits masuk dalam kategori hadits dhoif yang tertolak untuk dijadikan sebagai hujjah karena sanadnya tidak muttashil, satu atau lebih sanadnya dibuang.(Taisirul Mushtholahil Hadits, DR Mahmud Thohan, Halaman 70). Dengan demikian ia runtuh untuk dijadikan dalil.

Dalam hadist lain dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda, “ketika salah satu diantara kalian bersujud maka janganlah kalian turun sebagaimana turunnya onta, maka dahulukanlah tangan sebelum kedua lututnya” (Hadist Riwayat tsalatsah; Imam Bukhori, Turmudzi dan Daruquthniy mencacatkannya). Lebih lanjut Imam Bukhori berkata, Muhammad Bin Abdillah Bin Hasan tidak boleh untuk diikuti dan aku tidak tahu apakah ia mendengar dari Abi Zanad ataukah tidak. Imam Turmudzi mengatakan hadits ini ghorib, kami tidak mengetahuinya dari hadits Abi Zanad. (Subulussalam, Imam Shon’ani Juz 1 halaman 187). Dengan demikian, hadits inipun kualitasnya dhoif tidak dapat digunakan sebagai hujjah, akan tetapi  Ibnu Hajjar Al Asqolaniy dalam Bulughul Marom mengatakan bahwa Hadits ini lebih kuat dibandingkan dengan hadits wail sebab terdapat penguatnya yaitu hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori secara muallaq diatas. (Bulughul Marom, Ibnu Hajjar Al Asqolaniy, halaman 63 ). Dengan demikian derajat hadits Abu Hurairoh di atas meningkat menjadi hadits hasan li ghoirihi dan sah digunakan sebagai hujjah, sebab hadits dhoif yang tidak parah kedhoifannya akan dapat meningkat menjadi hadist hasan li ghoirihi jika terdapat Syawahid (penguatnya ).

Sementara itu tiga madzhab lainnya yaitu Hanafi, Syafi’I dan Hanbali dan sesuai dengan pendapat jumhur ulama merajihkan pendapat yang mendahulukan kedua lutut sebelum kedua tangannya, hal ini berdasarkan hadits Wa’il Bin hajjar Al Marwiy yang mengatakan, aku melihat Nabi SAW sholat, ketika sujud beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, hadits riwayat Arba’ah. Imam Turmudzi berkata ini hadits hasan, Imam Khottobiy mengomentari bahwa hadits ini lebih tsabit dibanding dengan hadits yang mendahulukan tangan, Akan tetapi Imam Ad Daruquthniy mengutip pernyataan Abu Dawud bahwa pada hadits diatas Syuraik meriwayatkannya secara sendirian, sementara itu Syuraik bukanlah rowi yang kuat terhadap hadits yang diriwayatkannya secara sendirian, berarti haditsnya dhoif.  Irsyadussari, Al Qasthalaniy, Juz 2 halaman 515). Imam Bukhori, Turmudzi, Abu Dawud dan Baihaqiy berkata : Syuraik meriwayatkannya secara sendirian akan tetapi hadits ini mempunyai penguat yaitu dari ‘ashim al ahwal dari Anas, beliau berkata ; aku melihat Rasulullah SAW turun dengan bertakbir sehingga kedua lutut beliau mendahului kedua tangannya, hadits riwayat Ad Daruquthniy, Al Hakim dan Baihaqi. (Subulussalam, Ash Shon’ani, Juz 1 hal 188). Dengan demikian hadits inipun kualitasnya meningkat menjadi hadits hasan li ghoirihi yang sah digunakan sebagai hujjah. Oleh sebab itu imam Nawawi dalam Al Majmu’ berkata : Tidak dapat dirajihkan pendapat salah satu madzhab mengalahkan madzhab yang lain dari segi sunnah, akan tetapi pengikut madzhab ini ( Syafi’I)  merajihkan hadits Wail.

Bahkan, Ibnu Qayyim Al Jauzy dalam kitab Zaadul Ma’ad, tidak hanya merajihkan hadits wail yang menyatakan Nabi sholat, ketika beliau sujud, beliau mendahulukan lutut daripada tangannya, namun beliau juga mengomentari hadits Abu Hurairah dan mengatakan bahwa hadist tersebut terbalik, sebab sebagaimana telah diketahui bahwa turunnya onta adalah mendahulukan kedua tangan atas kedua kakinya. ( Zaadul Maad, Ibnu Qayyim, Juz 1 Hal 58 ). Jika demikian hadits Abu Hurairah dan Hadist Wail ini cocok dan saling menguatkan berdasarkan tahqiqnya Ibnu Qayyim di atas. Namun, argumentasi Ibnu Qayyim ini dibantah oleh seorang ulama hadits kontemporer yaitu Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shifat Sholat Nabi nya. Dengan panjang lebar beliau memaparkan hujjah-hujjahnya dan berusaha meyakinkan khalayak bahwa onta itu ketika turun dia mendahulukan lututnya sebab lututnya onta itu ada dikedua tangannya, dengan demikian kesimpulannya bahwa sujud harus mendahulukan kedua tangannya sebelum lututnya.(Shifat Sholat Nabi, Nashiruddin al Albani, halaman 147)

Setelah menelaah sekelumit hadits-hadits di atas maka penulis berkesimpulan diperbolehkannya mengamalkan kedua tata cara sujud diatas, baik yang mendahulukan tangan sebelum lutut ataupun yang mendahulukan lutut sebelum tangan keduanya adalah hadits hasan li ghoirihi yang sah untuk diamalkan.

Wa Allahu A’lam

Ust. Ahmad Ar Rifai, M.Pd.I

MENGGERAK-GERAKKAN JARI TELUNJUK SAAT TASYAHUD

Pada kesempatan kali ini akan kita bahas tentang hukum menggerak gerakan telunjuk saat tasyahud, dan bagaimana pandangan ulama pakar tentang hal ini. Tulisan ini bukan sebagai peruncing dalam perbedaan, namun justru ingin meletakkan persoalan secara proporsional sehingga tidak ada saling olok diantara kaum muslimin yang berbeda.

? DALIL-DALIL ?

حديثوائلبنحجررضياللهعنه

أنهوصفصلاةرسولاللهصلىاللهعليهوسلموذكروضعاليدينفيالتشهدقالثمرفعأصبعهفرأيتهيحركهايدعوبها

رواهالبيهقيبإسنادصحيح

Hadits Wail bin Hujr sesungguhnya beliau mensifati sholatnya Nabi Saw, dia menyebutkan bahwa Nabi meletakkan kedua tangannya dalam tasyahud, lalu ia berkata kemudian Nabi mengangkat jari telunjuknya dan aku melihatnya, beliau menggerakkan ,telunjuknya sembari berdoa. HR Baihaqiy dengan sanad Shahih.

Akan tetapi ada hadits lain sebagai pembandingnya yaitu hadits dari Ibnu Zubair.

عنابنالزبيررضياللهعنهما { أنالنبيصلىاللهعليهوسلمكانيشيربأصبعهإذادعالايحركها } رواهأبوداودبإسنادصحيح

Dari Ibnu Zubair sesungguhnya Nabi Muhammad saw beliau isyarat dengan jari telunjuknya ketika berdoa tanpa menggerakkannya. HR Abu Daud dengan sanad Shahih.

Kedua hadits ini jelas bertentangan, sesuai dengan ulumul hadits jika terjadi dua hadits bertentangan maka harus ditempuh beberapa jalan, yaitu mengkompromikan, jika tidak bisa maka dilakukan tarjih, jika kedua duanya sama kuat maka ditempuh jalan Nasikh dan mansukh, jika masih tidak bisa juga maka kedua hadits mulgho’ alias tidak dipakai.

PANDANGAN ULAMA TERKAIT HAL INI

قالالبيهقي: يحتملأنيكونالمرادبالتحريكالإشارةبهالاتكريرتحريكها،فيكونموافقـًالروايةابنالزبير،

Imam Baihaqi berkata, kemungkinan yang dimaksud dengan menggerakkan dalam hadits wail adalah isyaroh dengannya tanpa menggerakannya berulang ulang, maka jadilah hadits wail tersebut, cocok dengan hadits dari Ibnu Zubair.

قالالإمامالنوويفيكتابهالمجموع : “وهليحركهاعندالرفعبالإشارة؟فيهأوجه ( الصحيح ) الذيقطعبهالجمهورأنهلايحركها , فلوحركهاكانمكروهاولاتبطلصلاته ; لأنهعملقليل ( والثاني ) يحرمتحريكها , فإنحركهابطلتصلاته , حكاهعنأبيعليبنأبيهريرةوهوشاذضعيف ( والثالث ) يستحبتحريكها , حكاهالشيخأبوحامدوالبندنيجيوالقاضيأبوالطيبوآخرون

Imam Nawawi dalam kitab Majmuknya berkata, apakah musholli menggerak gerakan telunjuknya saat ia mengangkatnya untuk isyaroh (pada saat tasyahud)?. Maka di dalamnya ada beberapa pendapat, yang shahih dan ini adalah pendapat jumhur adalah ia tidak menggerak gerakannya.Jika ia menggerakkan nya maka hukumnya makruh dan sholatnya tidak bathal sebab itu adalah gerakan kecil. Pendapat kedua hukumnya haram menggerak gerakannya, jika ia menggerak gerakannya maka sholatnya bathal, pendapat ini dari Abi Ali dan Abi Hurairoh, namun pendapat ini syadz lagi dhoif. Pendapat yang ketiga, disunnahkan untuk menggerak gerakannya ini adalah pendapat Syeikh Abu Hamid, Al Bandanijiy, Qodhi Abu Thoyyib dan yang lainnya.

فيالمغنيللمقدسي: ويشيربالسبابةيرفعهاعندذكراللهتعالىفيتشهدهلمارويناهولايحركهالماروىعبداللهبنالزبيرأنالنبيصلىاللهعليهوسلمكانيشيربأصبعهولايحركها،رواهأبوداود.

Ibnu Qudamah dalam Al Mughniy berkata, dan ia isyarat dengan telunjuknya serta mengangkatnya ketika menyebut nama ALLAH pada tasyahudnya, dan tidak usah menggerak gerakannya berdasarkan hadits Nabi dari Abdullah bin Zubair, sesungguhnya Nabi isyarat dengan jarinya dan tanpa menggerakkan nya. HR Abu Daud.

فيكشافالقناعللبهوتيالحنبلي: ويشيرمرارًاكلمرةعندذكرلفظ “الله” تنبيهًاعلىالتوحيدولايحركهالفعلهصلىاللهعليهوسلم

Imam Al Buhuti Al Hambali dalam Kasyful Qona’ berkata, dia berisyarah terus menerus, semuanya dilakukan saat menyebut nama Allah, sebagai pengingat atas tauhid dengan tanpa menggerak gerakannya, berdasarkan perbuatan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ahmad Rifai, M.Pd.I

MENGANGKAT TANGAN DALAM SHOLAT

kajianis-takbirأخبرنا الربيع قال أخبرنا الشافعي قال أخبرنا سفيان بن عيينة عن الزهري عن سالم بن عبدالله عن أبيه قال رأيت رسول الله إذا افتتح الصلاة يرفع يديه حتى تحاذي منكبيه وإذا أراد أن يركع وبعد ما يرفع رأسه من الركوع ولا يرفع بين السجدتين قال الشافعي وقد روى هذا سوى ابن عمر اثنا عشر رجلا عن النبي قال الشافعي وبهذا نقول فنأمر كل مصل إماما أو مأموما أو منفردا رجلا أو امرأة أن يرفع يديه إذا افتتح الصلاة وإذا كبر للركوع وإذا رفع رأسه من الركوع ويكون رفعه في كل واحدة من هذه الثلاث حذو منكبيه ويثبت يديه مرفوعتين حتى يفرغ من التكبير كله ويكون مع افتتاح التكبير ورد يديه عن الرفع مع انقضائه

Ar Robi’ menceritakan kepadaku, ia berkata Asy Syafii mengabarkan kepadaku, ia berkata, Sufyan Ibnu Uyainah mengabarkan kepadaku dari Az Zuhri, dari Salim bin Abdillah dari Bapaknya, beliau berkata, aku melihat Rasulullah saw ketika Beliau memulai sholat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan pundaknya, dan ketika beliau hendak ruku’ dan setelah mengangkat kepala dari ruku’ (beliau mengangkat tangannya juga) dan beliau tidak mengangkat tangannya saat bangun diantara dua sujud. Imam Syafii berkata,telah meriwayatkan hal ini selain  Ibnu Umar, dua belas sahabat dari Nabi Muhammad saw. Berkatalah Imam Syafii, karena itu lah aku berkata, kami memerintahkan kepada setiap orang yang sholat baik ia imam, makmum, ataupun munfarid, laki- laki atau perempuan untuk mengangkat kedua tangannya saat ia memulai sholat dan saat ia takbir untuk ruku’ dan saat ia mengangkat kepalanya dari ruku’. Maka jadilah setiap rekaat itu mengangkat tangan pada tiga tempat ini sejajar dengan pundaknya.

Ia membiarkan kedua tangannya tetap terangkat hingga ia selesai dari takbirnya dan menurunkan kedua tangannya bersamaan dengan selesainya takbit. (Al Umm)